Pembangunan Monumen Monsinyur Johannes Aertz : Mengenang Pengorbanan dan Kebesaran Hati

Langgur, SentralNusantara.com –  Pembangunan monumen tugu Monsinyur (Mgr) Johannes Aertz di Ohoi Kolser, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), adalah sebuah manifestasi penghormatan dan kerinduan yang mendalam, serta menjadi sarana untuk mengenang jasa dan pengorbanan Mgr. Johannes Aertz sebagai Martir Evav yang telah mencurahkan darahnya di Pulau Kei.

Menurut Penjabat Bupati Malra, Jasmono, peristiwa kemartiran Mgr. Johannes Aertz dan kawan-kawan di Kepulauan Kei adalah salah satu kisah paling heroik dalam sejarah perkembangan agama Katolik di Indonesia. Kesetiaan yang taat hingga akhir hidup menjadi bukti nyata dari keberanian dan kebesaran hati.

Pembangunan monumen ini juga sejalan dengan agenda pembangunan pariwisata di Kabupaten Maluku Tenggara. Cerita-cerita sejarah tentang penyebaran agama menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama dalam jenis wisata religi. Kisah pengorbanan para misionaris dan pendeta menjadi obyek yang menarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Jasmono juga menekankan pentingnya penataan Kota Langgur dan menjaga keberlanjutan fasilitas umum di kota tersebut. Asset-aset dan fasilitas umum seperti bangunan, penerangan jalan, monument, taman, dan landmark harus dijaga keberlanjutannya agar tetap berfungsi baik dan tidak dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai umat Katolik di Pulau Kei, warga Maluku Tenggara diharapkan dapat memberikan penghormatan dan mengenang dengan sungguh pengorbanan Mgr. Johannes Aertz. Monumen yang dibangun di Ohoi (desa) Langgur ini menjadi lambang kecintaan umat Katolik kepada Monsinyur dan kawan-kawan, serta sebagai pengingat akan pengabdian dan cinta tanah air Mgr. Johannes Aertz.

Pembangunan monumen ini bukan hanya sebagai tanda penghormatan, tetapi juga sebagai pengingat akan nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan pengabdian yang patut dicontoh oleh generasi selanjutnya.

Pos terkait